Ini Cita – citaku !

Namaku Agus. Agus Suryowidodo. Aku duduk di bangku sekolah dasar dan tinggal di sebuah kota kecil Muntilan, Jawa Tengah. Ah, pasti banyak orang bertanya : Muntilan itu dimana, sih ? Orang tentunya lebih banyak mengenal Magelang atau Yogyakarta. Benar ! Muntilan adalah kota kecil yang terletak di dekat kota Magelang, yang terkenal dengan Candi Borobudur. Kali ini aku tidak mau bercerita tentang Candi Borobudur. Sudah banyak orang tahu tentang Borobudur yang megah itu. Kamu juga pastinya udah pernah ke sana, kan ?

Oya, masih ingat apa sih cita – cita kamu ketika hendak beranjak dewasa dulu ? Atau sewaktu kamu masih duduk di bangku sekolah ? Beraneka ragam cita – cita kamu sebutkan dengan bangga dan penuh antusias. Yah, sama persis dengan aku dan 3 (tiga) sahabat terbaikku di sini.

Sahabatku Jono, dia punya keinginan menjadi seorang tentara. Dia merasa bangga sekali jika sudah menyebutkan cita – citanya itu. Apalagi kerap kali sepulang sekolah dia bermain perang – perangan lengkap dengan kostum tentara : topi dan senapan yang terbuat dari kayu dan menjadikan pekarangan rumahnya menjadi medan perang. Hahaha….sahabatku Jono ini memang benar – benar luar biasa ! Aku salut !

Nah, kalau Puji punya cita – cita yang unik : hanya ingin membahagiakan orang lain. Hmmm…aku sendiri kurang paham apa yang dia maksudkan. Yang pasti, Puji banyak menghabiskan waktu luangnya dengan melamun. ( barangkali dia melamunkan sedang berbuat hal yang menyenangkan orang lain ).

Satu – satunya sahabat perempuan yang kami miliki adalah Sri. Ah, kalau Sri ini punya cita – cita menjadi bintang sinetron. Bersama mami-nya, Sri sering berlatih akting di depan cermin dan berdandan layaknya seorang artis sinetron. Sri selalu membangga-banggakan bahwa untuk bisa sukses dan meraih cita – cita itu harus punya ko-nek-si, dan ini selalu jadi bahan bercandaan kita ketika berkumpul. Hahaha…..

Kalian tentu bertanya apa sih cita – citaku ?

Sewaktu pelajaran di sekolah, ibu guruku bertanya kepada kami : Apa cita – cita kalian ? Lalu kami diminta untuk menuliskan sebuah karangan mengenai cita – cita kami. Teman – temanku menyebutkan cita – citanya satu persatu dan semuanya ingin menjadi “seseorang”. Tiba giliranku, aku menjawab : “Cita – citaku ingin makan di restoran Padang.” Sontak membuat seisi kelas menertawakan aku. Bahkan ibu guruku pun kembali menanyakan.

“Iya benar kok. Cita – cita saya adalah makan di restoran Padang !” kataku dengan mantap tanpa menghiraukan tertawaan teman – teman.

Aku tahu cita – citaku ini tidak setinggi langit. Tidak sebanding dengan teman – temanku, cita – citaku ini memang remeh dan mungkin hanya setinggi tanah. Kamu pasti terheran – heran, kan dengan cita – citaku ini ? Yah, kehidupan keluarga ku yang sangat sederhana membuat aku tidak pernah makan selain masakan ibu. Oya, ibuku ini jago sekali lho memasak tahu bacem ! Tahu bacem buatan ibuku paling enak sekabupaten. Dan saking jagonya, setiap hari aku makan tahu bacem. Sarapan, makan siang sampai makan malam pun aku menyatap tahu bacem buatan ibu. Sebenarnya aku bosan. Tapi, dengan penghasilan ayahku yang hanya buruh di pabrik tahu, aku mau tidak mau menikmati menu tahu bacem yang dihidangkan di meja makan.

Kesederhanaanku membuat aku harus berjuang demi mendapatkan kesempatan menikmati makan di restoran Padang. Segala cara aku lakukan mulai dari menghemat uang saku yang diberi oleh ibu setiap pagi hingga menawarkan segala jasa tenagaku kepada orang – orang di sekitar rumahku supaya diberi upah. Perjuangan ini pun dirasakan sendiri oleh sahabatku Puji, ketika aku meminta bantuan dia membuat celengan dari bambu demi menabung untuk dapat makan di restoran Padang.

Oalah Gus, bilang dong kalau mau bikin celengan. Kenapa ndak beli saja tho,” tanya Puji yang kebingungan dengan permintaanku.

Lha piye to Ji, kalau aku beli celengan nanti uangku habis. Lantas apa yang mau ditabung?” jawabku sambil menemani Puji membelah bambu.

“Aguuus..Agus. Cita-citamu itu rendah, tapi menyusahkan,” ujar Puji kepadaku.

Puji nampaknya benar – benar memahami keadaanku yang bersusah payah untuk menggapai cita – cita yang hanya setinggi tanah.

Tak ayal, terkadang kesusahan ini membuat aku gelisah. Salah satunya karena aku belum menuliskan apapun tentang cita – citaku seperti yang ibu guru tugaskan. Kemudian aku meningat kata – kata simbah kakung tetanggaku : “Agus, Cita – cita itu tidak untuk ditulis. Tapi untuk diwujudkan !”

Kata – kata simbah kakung inilah yang memberi aku semangat. Aku lakukan apa saja asal bisa mendapatkan uang untuk aku tabung, termasuk beberapa hari menjadi kurir ayam ke restoran Padang. Kamu tahu, aku sangat senang ketika mengantarkan ayam ke restoran Padang karena aku merasa aku sudah sangat dekat dengan cita – citaku. Aku kayuh sepedaku dengan penuh semangat dan senyum tanpa peduli berapa jauh jarak yang harus aku tempuh setiap harinya.

Upah dari mengantarkan ayam ini aku tabung dalam celengan bambu. Tapi aku tidak mau bapak – ibuku tahu, jadi aku sembunyikan saja celengan bambu ini. Hingga suatu hari karena kecerobohanku uang tabungan yang aku kumpulkan dengan susah payah itu harus jatuh ke dalam sumur ! Aku menatap nanar ke dalam sumur yang dalam dan aku menangis! Ah, cita – cita yang sudah digenggaman harus lepas lagi.

Aku marah ! Aku sedih !

Aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan ! Seolah semuanya sudah habis hingga kemudian simbah kangkung mengetahui kegelisahanku dan berperan bahwa rejeki tidak akan kemana kalau sudah menjadi milik kita. Dia akan kembali kepada kita. Aku mendengarkan kata simbah kakung namun tetap dalam perasaan sedih.

Memang benar bahwa perjuanganku selama ini tidak sia – sia dan benar kata simbah kakung. Rejeki itu kembali kepadaku melalui eyang putriku yang memberikan sejumlah uang saku untukku sebelum beliau kembali ke desa. Saat itu juga air mataku pecah dalam pelukan eyang putri dan aku rasakan kembali cita – cita itu aku genggam kembali. Betapa gembiranya hatiku. Aku kabarkan kegembiraanku kepada sahabat – sahabatku : Jono, Puji dan Sri.

Ah, rupanya mereka kehilangan aku. Mereka merindukanku. Selama berjuang ini, aku telah sering melupakan dan meninggalkan teman – temanku. Aku sering tidak hadir ketika waktu berkumpul bersama. Aku sibuk dengan perjuanganku. Namun sekarang aku menyadari bahwa keberhasilan meraih cita – cita tidak akan berarti tanpa kehadiran sahabat. Seandainya aku tidak berhasil pun, mereka toh masih tetap menjadi sahabat. Sahabat selalu ada kapanpun dan dalam keadaan apapun.

Aku berbahagia. Aku sudah berhasil meraih cita – citaku yang hanya setinggi tanah. Dan kegembiraan ini aku rayakan bersama sahabat – sahabat terbaikku yang selalu menemaniku dalam kesederhanaan dan ketulusan mereka.

Aku tidak malu bercita – cita. Karena apapun cita – cita yang aku miliki, aku perjuangkan dengan sepenuh hatiku dalam kesederhanaan.

Ini cita – citaku yang hanya setinggi tanah namun aku telah meraihnya.

Image

Saya menceritakan kembali film sederhana penuh inspirasi garapan sutradara Eugene Panji berjudul Cita-citaku Setinggi Tanah. Film inspiratif ini digarap dengan alur cerita yang kuat dengan penyampaian yang sangat sederhana dan down-to-earth. Film ini juga didedikasikan untuk anak penderita kanker yang mana seluruh penjualan tiketnya disumbangkan kepada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).

Eugene berharap melalui film ini masyarakat mendapatkan nilai – nilai baik yang terkandung di dalam cerita dan berbagi hak ‘hidup yang lebih baik’ kepada anak – anak penderita kanker.

Film ini juga mengajarkan banyak pihak terutama orang tua bahwa dalam meraih sebuah cita – cita, tidak cukup hanya memiliki cita – cita setinggi langit, tapi bagaimana kita menghargai sebuah proses ketika memperjuangkan cita – cita itu, sehingga diharapkan anak – anak nantinya tetap menjadi sosok sederhana, tangguh dan terutama menghargai sebuah perjuangan.

Ini cita – citaku. Apa cita – citamu?

 

– Yosodihardjo’s –

Advertisements

12 responses to “Ini Cita – citaku !

  1. Cita-cita itu 11-12 sama target sih, ia terus bergulir seiring tercapainya target satu demi satu. Cita-cita gue? Lahacia 😉 hihihi

    Selain kesalahan tanda baca di sana dan di sini, sepertinya yang lain-lain sih gak masalah. Gaya bahasa mengalir, ringan dan enak dibaca. Tapi tujuan tulisan ini apa? Review film? Atau sekedar berbagi cerita? Untuk orang yang belum pernah nonton film ini (kayak gue) maka tulisan ini gue kategorikan spoiler >.<

    • Makasih, Eka.
      Iya tulisan ini lebih untuk berbagi cerita. Memang sengaja tidak sebagai review film. Mencoba untuk menyampaikan nilai – nilai dari filmnya karena menurutku ini film sederhana tapi punya nilai kehidupan yang sangat bagus.
      Nah, makanya kan kamu belum nonton, jadi ya dikit – dikit tau kan ceritanya seperti apa. 😀

  2. Cita-citaku waktu SD dulu pengin jadi psikolog, tapi setelah kuliah psikologi aku menemukan itu adalah ilmu yg sangat menarik utk dipelajari tapi tidak dijadikan profesi. Sekarang jadinya malah nulis script film dan lain2 :))
    Nggak apa-apa kan kalau cita-cita berubah di tengah jalan?

Your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s