Mampir ke Pasar Indonesia

Hari Minggu biasanya saya lewatkan lebih banyak dengan mampir ke coffee shop sekedar untuk santai membaca buku atau browsing hal – hal menarik di dunia maya ( yah lumayan dapat koneksi WiFi gratis ! Hahaha….

Tetapi, ada yang beda dari hari Minggu kemarin, tepatnya pada 7 Oktober 2012. Banyak sekali event bagus yang diadakan di Jakarta  pada hari itu. Memang sih kebanyakannya event pameran , yang sudah tentu menyedot massa yang sangat banyak.

Ada yang menarik di kawasan Senayan. Di Jakarta Convention Center (JCC) tepatnya. Ada Pasar Indonesia. Wah, Pasar Indonesia ? Hmmm…seperti apa sih Pasar Indonesia ini ?

Nah, ini ada sedikit oleh – oleh saya ketika mampir ke Pasar Indonesia, Minggu 7 Oktober 2012.

PASAR INDONESIA

Eh, tunggu! Apa sih sebenarnya Pasar Indonesia ini? Buat saya, nama ini sangat menggilitik dan “menggoda’” untuk saya cari tahu.

Oh, Pasar Indonesia itu merupakan rangkaian dari acara ulang tahun Bank Mandiri 14 tahun yang jatuh tanggal 2 Oktober 2012 silam. Wah, selamat ulang tahun Bank Mandiri ! Acaranya sendiri berlangsung dari tanggal 3 Oktober – 7 Oktober 2012.

Pasar Indonesia merupakan ajang pameran produk unggulan dari Mitra binaan Mandiri dan Wirausaha Mandiri yang tersebar di seluruh Indonesia. Tujuannya sudah pasti untuk menunjukkan komitmen menciptakan kemandirian melalui gelaran produk terbaik hasil kreasi mitra binaan Bank Mandiri yang merupakan usahawan mikro kecil dan menengah (UMKM ).

Namanya juga pasar, sudah pasti tentu donk semua produk ada digelar disini, mulai dari kerajinan, batik, tenun, fashion dan yang sudah pasti produk kuliner. Boleh sih namanya Pasar Indonesia, tapi jangan dibayangkan penampilannya seperti pasar tradiisonal pada umumnya.

Jakarta Convention Hall “disulap” sedemikian rupa menjadi sebuah arena pasar yang menyenangkan dan jauh dari kesan panas dan kumuh. ( Oya, saya datang hanya pada Minggu 7 Oktober di Assembly Hall JCC.  Pasar Indonesia juga diselenggarakan di arena parker tidak jauh dari Assembly Hall JCC).

Dari  pintu masuk, pengunjung sudah disuguhi dengan deretan warung – warung kuliner khas Indonesia. Segala macam penganan dan masakan ada disini ! Sebut saja Gudeg Yu Jum, Rujak Cingur, Batagor, hingga Martabak Kubang. Iya betul! Semua masakan ‘berat’ alias mengenyangkan.

Apa saja sih hasil perburuan saya Minggu siang di Pasar Indonesia ?

Diulik satu – satu, yuk !

RUJAK CINGUR

Dari sekian banyak warung makanan yang berderetan, saya mengincar warung Rujak Cingur.  Hmm….membayangkan saja sudah membuat saya kelaparan pada saat itu. Tanpa berpikir panjang lagi, segera saya menuju ke warung rujak cingur yang ternyata didatangkan lansung dari Malang. Wow !!!

Langsung saya memesan 1 porsi rujak cingur dan kali ini lengkap dengan cingur sapinya ! (FYI, selama ini saya makan rujak cingur selalu mengeliminir cingur).

Nah, namanya saja rujak sudah pasti ada buah-buahannya. Jadi dalam racikan rujak cingur ini ada potonga bengkoang, mangga, kemudian sayur – sayuran, tahu – tempe goreng disiram kuah kacang dengan campuran petis dan tidak ketinggalan : CINGUR SAPI !

Hmmm…dari aroma kuah kacangnya sudah tercium aroma yang membuat saya tidak sabar untuk melahap masakan khas dari Jawa Timur ini. Dengan merogoh kantong Rp 25.000,- siang hari itu, saya kenyang dengan seporsi Rujak CIngur, asli dari Malang.

MARTABAK KUBANG HAYUDA

Martabak Mesir sudah sering saya dengar. Apalagi Martabak Bangka. Nah, ini ada yang namanya Martabak Kubang. “Apa lagi ini Martabak Kubang?” pikir saya

Melihat dari penampilannya dan mencicipi rasanya Martabak Kubang tidak jauh beda dari Martabak Mesir yang sudah sering kita santap.

Martabak Kubang ternyata perpaduan antara  rasa Minang dan India. Martabak Kubang merupakan martabak telur atau kalau di daerah Sumatra Barat disebut dengan martabak mesir. Nama Kubang rupanya tempat kelahiran Hayuda alias H Yusri Darwis ( yang telah meirintis usaha ini sejak tahun 1971 ), berada di Kab.50 Koto, Sumatra Barat.

Nah, untuk yang belum sempat mencicipi martabak kubang ini, tidak perlu jauh – jauh ke Sumatar, cukup mampir ke salah satu gerainya di Jakarta dan sekitarny.( Jl Dr Saharjo, Jl Raya Kalimalang, Jl Margonda Raya – Depok dan Jl Raya Serpong  ).

KUE BILIS NAYADAM

Wah, beruntungnya saya mampir ke Pasar Indonesia! Tidak perlu ke Batam untuk bisa menikmati renyah dan gurihnya KueBilis Nayadam khas dari Batam. Dari namanya saja sudah pasti tau donk kalau kue ini terbuat dari ikan Bilis, semacam ikan teri tapi ukurannya lebih besar. Ikan Bilis dibalut dengan tepung terigu kemudian digoreng.

Cemilan ini memang bikin ketagihan ! Satu gigitan akan berlanjut ke gigitan-gigitan berikutnya karena memang rasanya gurih dan ada sedikit rasa pedas yang tersamar tapi tidak bikin eneg.

KUE MEUSEUKAT

Nah, belibet ke bacanya? Hahaha… Sama kok.  Pertama kali membaca nama kue ini berasa keseleo lidah.

Kue ini atau sering disebut dodol berasal dari Tanah Rencong, Aceh, terbuat dari campuran utama tepung terigu dan buah nanas. Rasanya memang manis dan yang menarik dari Meuseukat ini adalah tampilannya yang cantik dengan warna agak putih.

Lagi – lagi saya merasa beruntung sudah pernah mencicipi Meuseukat ini. Kenapa? Ternyata Meuseukat ini bisa dibilang mempunyai ‘derajat’ tinggi di dalam dunia kuliner Aceh. Dodol ini tidak dijual di pasar ataupun di warung – warung, Meuseukat hanya bisa dinikmati ketika acara tertentu seperti prosesi perkawinan dan Hari Raya Lebaran.

Tekstur Meuseukat lunak dan layaknya dodol, rasanya dominan manis. Uniknya lagi adalah dodol ini tidak menggunakan santan sebagai bahan baku seperti umumnya kue – kue khas Aceh.

BATIK & TENUN

Semua pasti sudah mengenal batik dan tenun, donk!

Inilah hebatnya Indonesia mempunyai beragam jenis kain tradisional. Sebut saja batik, tenun ikat, songket, sasirangan, jumputan dan masih beragam jenis kain lainnya. Dan di Pasar Indonesia inilah  hampir semua jenis kain Nusantara dipamerkan.

Menurut beberapa peserta pameran, apabila kita ingin mengkoleksi kain batik, cari motif batik yang pewarnaannya penuh dan harganya sedikit diatas rata – rata kain batik pada umumnya ( mulai dari Rp 500.000an ). Teknik pembuatan batik tulis dengan detail corak serta pewarnaan alami bisa membuat harga kain batik ini melambung hingga mencapai jutaan rupiah. Wow !!! Memang sudah sepatutnya kita memberi “harga” tinggi akan produk – produk asli dalam negeri, kan? Setuju ?

 

Dari section kerajinan dan kain di Pasar Indonesia memang tidak banyak yang saya kunjungi. Booth kain lebih banyak saya sambangi ketimbang kerajinan tangan. Hasilnya, saya membawa pulang sehelai syal dari Donggala yang saya  beli dari booth Sarung Donggala.

Sarung Donggala yang dipamerkan disini beragama corak dan warnanya; pada umumnya memang warna – warna cerah seperti kuning, hijau dan orange. Sarung Donggala atau sering dikenal dengan Buya Sabe pada dasarnya berbahan baku benang sutra yang ditenun dengan corak yang beragam seperti palekat garusu, buya bomba, buya sabe atau kombinasi, yang pengerjaannya memakan waktu seminggu hingga satu bulan.

Beralih ke booth yang lain, kembali saya menemukan hal yang luar biasa akan khazanah kain Nusantara yang kita miliki.

Di booth milik Bapak Rizal, dipamerkan kain batik Belanda kuno yang berusia kurang lebih 100 tahun. Batik tersebut dibuat pada tahun 1900 oleh perusahaan batik Nyonya Metzelaar di Pekalongan dengan tema Si Tudung Merah. Jika ditaksir, harganya mencapai Rp 50 juta. Luar biasa !!!

Kekayaan budaya Indonesia disajikan dengan apik di Pasar Indonesia, dimana dalam satu waktu dan satu tempat, pengunjung diajak untuk berkeliling Indonesia dengan mencicipi masakan khas daerah, menyaksikan corak dan ragam kain Nusantara hingga uniknya kerajinan dari daerah – daerah di Indonesia.

Menyesal saya tidak datang dari hari pertama Pasar Indonesia ini digelar.  Ada beberapa booth dan area yang saya lewatkan. Namun, petualangan kurang dari 3 jam pada hari Minggu itu membuat saya semakin ingin lebih lagi mengenal budaya Indonesia.

Terima kasih Bank Mandiri. Terima kasih Pasar Indonesia.  Semoga bisa bermain ke pasar – pasar Indonesia berikutnya.

————————-

Note: special thanks to @lindaleenk yang sudah “memaksa’ saya menemani dia ke Mandiri Karnaval Pasar Indonesia. Kapan butuh teman lagi ke keriaan berikutnya ? 😀

Salam,

– Yosodihardjo’s –

Advertisements

Your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s