Indahnya me-Matah Ati.

Matah  Ati : 2011.

Mendengar kata Matah Ati, sempat membuat saya bertanya, bagaimana cara pembacaannya yang benar : Matah Ati atau Mata Hati. Agak aneh mendengarnya. Kata ‘Matah Ati’ mulai akrab di telinga saya sekitar setahun yang lalu, ketika berita pementasan Sendratari  Matah Ati di Esplanade, Singapura, santer tersiar. Dan kemudian, sendratari Matah Ati pun di gelar di Jakarta pada bulan Mei 2011. Saat itu, belum ada niatan untuk menonton gelaran tersebut. Saya hanya mencari – cari informasi, apa Matah Ati itu. Dalam benak saya, Matah Ati tidak ada bedanya dengan sendratari – sendratari lain yang pernah saya saksikan. Alhasil, gelaran Matah Ati 2011, saya lewatkan begitu saja.

Matah Ati : 2012.

Berita tentang Matah Ati akan dipentaskan kembali tahun ini, kembali saya dengar. Kali ini, saya sudah niatkan untuk menyaksikan sendratari yang mendapatkan standing ovation pada world premiere di Pesta Raya 2010, Malay Festival of Art, di Esplanade, Singapura, Oktober 2010 silam.

Tidak ingin melewatkan momen berharga ini, saya kembali mencari tahu bagaimana cara mendapatkan tiket, tanggal dan jam pertunjukkan. Bahkan, saya sempat mengikuti kuis yang diselenggarakan melalui jejaring sosial Twitter @matah_ati. Keberuntungan belum berpihak kepada saya. Tak ayal, saya sedikit kecewa dan agak cemas karena menjelang hari pementasan, saya belum mendapatkan tiket.

” Ah, jangan sampai ini terlewat lagi ! “

Kali ini, keberuntungan saya datang melalui teman saya yang kemudian menghubungi saya bahwa dia masih memiliki 1 (satu) tiket tersisa untuk Kelas 3. Saya tidak ba bi bu lagi…. Saya mengiyakan tawaran dia dan disepakati  bahwa kita akan menonton Matah Ati Minggu, 24 Juni 2012.

Matah Ati, Teater Jakarta : 24 Juni 2012


Menjelang pementasan dimulai, saya, teman beserta dengan kakaknya, sudah duduk di bangku deretan paling depan, untuk Kelas 3, yang kebetulan posisinya berada di lantai teratas, sehingga mengharuskan kami untuk sedikit menundukkan kepala untuk menonton. Bagi saya, hal ini tidak menjadi persoalan berarti, karena saya masih dapat melihat keseluruhan panggung beserta dengan para pemain gamelan dan sindennya.

Aura kemegahan berasa ketika saya menebarkan pandangan dan menunggu detik – detik tirai panggug dibuka.

Pementasan diawali dengan alunan tembang Jawa oleh pesinden yang duduk di sisi panggung sebelah kiri. Aroma dupa wangi pun semerbak hingga ke seluruh ruangan. Saya suka aroma wangi dupa ini. 🙂

Tirai panggung pun terbuka dan sudah bersiap para penari dengan kostum dan formasi cerita. Seketika itu juga, saya merasa sangat takjub dan seakan tersihir dengan apa yang ada di hadapan saya. ” Gila ! Ini keren banget !! ” itulah kata – kata yang terlontar begitu pagelaran dibuka.

Tata panggung yang bisa dikatakan cukup sederhana dengan perpaduan setting lantai yang sengaja dibuat miring dengan kemiringan 15 derajat. Panggung menjadi lebih hidup dengan tata visual serta tata lampu yang senantiasa disesuaikan dengan babak demi babak yang dilakonkan. Satu hal lagi yang membuat saya terkesima adalah adanya electronic trap door, yang berada di bagian tengah panggung. Pintu ini menjadi akses keluar masuk pemain untuk beberapa adegan disertai permainan lampu yang makin menguatkan cerita tanpa keluar dari pakem. Jadi, bisa dikatakan, Sendratari Matah Ati adalah sebuah pertunjukkan yang memadukan keluruhan tradisi dan kecanggihan teknologi.

Inti cerita yang sangat sederhana, disampaikan dengan begitu luar biasa melalui babak demi babak. Cerita tentang kisah cinta antara Raden Mas Said dan Rubiyah di abad 18, ditengah perjuangan melawan penjajahan Belanda. Di mulai dari kegelisahan Rubiyah (penari utama wanita), yang bermimpi menjadi seorang putri ningrat, meditasi sang pangeran, situasi pedesaan pada masa itu, hingga guyonan – guyonan khas penduduk desa. Adegan persiapan peperangan, pelatihan perang hingga peperangan melawan penjajah yang menegangkan sekaligus menyedihkan karena jatuhnya korban, disuguhkan dengan sangat apik melalui gerakan tarian,  dan tembang Jawa yang terpadu sempurna. Alur cerita digambarkan begitu jelas meskipun seluruh dialog dan nyanyian dibawakan dalam bahasa Jawa. Emosi penonton terbangun melalui cerita yang tersirat dalam setiap detail gerakan tarian para penari, kostum dan aksesoris yang sangat indah, ditambah dengan permainan komposisi dan dinamika yang diperdengarkan oleh para pemarin gamelan dari satu set gamelan, menjadikan nada – nada cerita tersampaikan begitu indah.

Adegan demi adegan mengalun dan membuat saya tidak sabar untuk segera menyaksikan kejutan dan keindahan apalagi yang bisa saya saksikan. Babak yang menjadi favorit saya adalah babak persiapan pernikahan Raden Mas Said dengan Rubiyah, prosesi pernikahan hingga adegan malam pertama sang pengantin. Kesakralan pernikahan budaya Jawa disuguhkan dengan indah.

Intim dan berkelas namun tidak berkesan vulgar pada adegan malam pertama, tersaji sempurna melalui gerakan tarian yang menunjukkan simbol – simbol keintiman dan kemesraan sang pengantin. Kembali saya terpaku dan berdecak kagum menyaksikan satu karya luar biasa ini.

Sepanjang pagelaran, saya tidak pernah berhenti berdecak kagum, hingga pada akhirnya, saya secara spontan memberikan standing ovation untuk persembahan 2 (dua) jam mahakarya sempurna. 🙂 Tepuk tangan dan decak kagum pun membahana di seluruh ruangan teater yang disampaikan pula oleh para penonton.

 

Matah Ati : 25 Juni 2012

Matah Ati kembali membuka kerinduan saya untuk memahami lebih dalam budaya Jawa, budaya tempat saya besar dan tumbuh. Budaya yang begitu melekat dalam kehidupan saya. Ada satu kerinduan, bahwa suatu saat, saya masih bisa menceritakan kisah Matah Ati ini kepada generasi yang akan datang, menembangkan kembali tembang Macapat, atau sekedar bercerita tentang tokoh – tokoh wayang.

Dan semoga, akan ada mahakarya serupa Matah Ati berikutnya.

Matah Ati, melayani dengan sepenuh hati sang pangeran. 

 

Jakarta, 26 Juni 2012.

– Yosodihardjo’s –

Advertisements

One response to “Indahnya me-Matah Ati.

  1. mas indra, kl nonton matah ati yang di gelar open stage di Solo pasti akan lebih terpesona lagi, karen sanat.
    walau menyesal tak menonton saat pagelaran pertama di Jakarta dan melewatkan pagelaran kedua di Jakarta juga, tapi beruntung bisa menyaksikan versi open stage di Solo, di halaman mangkunegaran berlatar Benteng yang menyatu dengan panggung

Your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s